Sunday, August 19, 2018

Perjuangan Meraih Impian STEI ITB 2018

          Hallo semuanya, udah lama banget aku gak ngepost nih, udah berdebu banget pastinya ini blog. Selama kelas XII aku bener-bener gak sempet buat ngeblog karena bener deh, kelas XII itu sungguh sibuk, ditambah lagi harus memikirkan dimana nanti aku kuliah. Dan sekarang adalah saat yang tepat. Di postingan kali ini aku mau berbagi pengalaman tentang perjuangan di kelas XII yang nantinya berjuang lagi untuk masuk perguruan tinggi nantinya. Sesuai judulnya, tulisan ini juga akan mengarah kepada Perjuangan Meraih Impian STEI ITB 2018. Baiklah, sebelumnya dalam cerita ini, kata ‘aku’ akan lebih mendominasi berhubung tulisan ini adalah tulisan mengenai pengalaman yang benar-benar menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Jadi, beginilah kisahnya.

Masuk menuju Perguruan Tinggi Negeri Favorit tentu adalah impian setiap orang. PTN favorit seperti ITB, UI, dan UGM merupakan Big Three PTN yang memiliki keketatan yang sangat tinggi untuk masuk ke tiga kampus tersebut. Untuk masuk menuju Perguruan Tinggi Negeri, terdapat 3 jalur yang bisa ditempuh, yaitu SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri. SNMPTN adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, yaitu seleksi tanpa tes yang menggunakan nilai rapor untuk penyeleksiannya atau biasa dikenal dengan Jalur Undangan. Sedangkan SBMPTN adalah Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang paling bergengsi untuk mendapatkan PTN yang diinginkan peserta.  Persentase Banyak Peserta SBMPTN yang lolos dari tahun ke tahun hanya 16-20%. Sungguh kecil bukan? Itu masih secara keseluruhan, bagaimana kalau melihat setiap jurusan? Jurusan favorit seperti masuk Big Three PTN kebanyakan hanya memiliki persentase kisaran 1-5%, kecil sekali bukan? Dengan kecilnya persentase tersebut, aku mengikuti bimbel ternama di Jakarta, yaitu BTA 8 Jakarta dengan pola hari Senin-Rabu karena aku terlambat mendaftar di hari Minggu sehingga hanya tersisa pola hari biasa untuk mendapatkan kelas khusus.

Senin, 17 Juli 2017, sepulang sekolah pukul 3 sore, aku langsung pergi menuju BTA menggunakan ojek online, tidak pulang ke rumah lagi karena jarak yang terlalu jauh. Perasaan aku sungguh bergejolak karena jujur saja, aku tidak suka kalau harus les sepulang sekolah, apalagi kalau harus pulang malam jam 8 malam setiap minggunya di hari Senin dan Rabu, belom lagi ditambah Ekskul di hari lain dan tugas-tugas yang berat. Di BTA, mulailah aku berkenalan satu-satu dengan orang yang duduk dekat dengan aku, namanya Admiral, Abril, Rafi. Hari pertama itu juga langsung masuk materi, Biologi tentang Pertumbuhan Perkembangan bersama Kak Adit dan Matematika tentang Dimensi Tiga bersama Kak Nazar. Selesai BTA, aku harus pulang dengan jarak yang cukup jauh menggunakan ojek online dan tentu saja jalan pulang yang aku lalui itu adalah jalan utama yang setiap hari macet dengan waktu tempuh rata-rata adalah 40 menit. Sampai rumah pun aku lelah, selesai makan, lalu mandi, dan langsung tidur. Untung saja belom ada PR atau tugas saat itu. Saat itu, aku belom mengetahui medan perang sesungguhnya untuk masuk PTN. Belom ada dorongan yang mengingatkan aku kalau masuk PTN itu medan yang penuh pertumpahan darah. Jadi bimbel yang aku ikuti pada awal-awal itu hanya aku ikuti dan maknai seperti bimbel atau les untuk sekolah saja.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun baru adalah awal yang baru. BTA di bulan Juli dan Agustus saat itu belum memecahkan semangat aku buat menepati janji-janji aku buat menjadi lebih rajin di sekolah. Sepulang BTA di hari kedua, selesai makan dan mandi, aku menyempatkan diri mengerjakan tugas dan pr yang diberikan di sekolah. Tapiii.. memasuki Bulan September, lunturlah semangat aku. Tugas-tugas mulai terlantar karena ternyata banyak sekali tugas-tugas dan PR yang berat dan over sehingga seminggu penuh itu seringkali aku begadang. Hari BTA, yaitu Senin dan Rabu, sampai rumah langsung mandi dan tidur tanpa makan lagi (karena di BTA udah makan). Hari Kamis aku diminta Guru TIK untuk mengajar OSN Komputer ke adek kelas. Sungguh melelahkan. Hanya 2 hari saja aku bisa pulang cepat, yaitu Selasa dan Jumat. Selasa dan Jumat itulah tugas-tugas aku menumpuk dan aku harus sapu bersih sampai begadang. Jujur saja, selain tugas-tugas itu aku juga pusing untuk memikirkan swasta yang aku ambil, karena ortu aku masih berpikir kalau usaha aku buat masuk ke PTN masih sama saja seperti koko dan cici aku yang berakhir di swasta.

Memasuki bulan September, muncul banyak percakapan di sekitar aku mengenai pendaftaran dan kuliah dimana. Banyak universitas swasta yang sudah membuka pendaftaran pada bulan itu. Setiap kali ditanya swasta dimana, aku selalu bilang belom tau dimana, aku incernya PTN. Sedangkan banyak temen aku yang mengingatkan aku untuk masuk swasta yang saat itu sudah dibuka pendaftarannya, seperti Binus, UNTAR, dan lain-lain sebagai cadangan. Orang tua pun juga demikian. Aku dicekokin terus tentang swasta, diceramahin jurusan-jurusan yang ada di masing-masing universitas swasta, seperti UNTAR, ATMA Jaya, UNPAR, Trisakti, dan lain-lain. Lama-kelamaan aku menjadi risih dan disinilah semangat BTA aku pun dimulai. Aku bertekad untuk membuktikan bahwa aku bisa masuk ke PTN.

Berbicara soal PTN, incaranku selama ini adalah Teknik Informatika (IF) di Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB adalah satu dari Big Three Campus dengan kualitas di bidang Teknik terbaik di Indonesia. Dari awal aku sudah bertekad agar aku bisa berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), terutama jurusan Teknik Informatika di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Impian STEI ITB itu adalah impian yang sebetulnya sudah kuimpikan sejak aku di SMP. Ketika aku SMP aku hobi sekali mengotak-ngatik sesuatu yang berhubungan dengan komputer dan berhasil mendapatkan sesuatu yang baru dari komputer itu. Selain itu, aku juga terpacu untuk masuk ke Institut Teknologi Bandung, sebuah Institut tergengsi se-Indonesia yang dimana Papi dan Ciciku sendiri dulu juga berjuang masuk ke ITB tetapi gagal. Sudah ada 2 generasi yang menginginkan Perguruan Tinggi yang sama, yaitu ITB. Oleh karena itu, aku harus sungguh-sungguh untuk meraih cita-citaku masuk ke ITB. Semoga untuk ketiga kalinya, inilah saat yang tepat agar terbayar lunaslah 2 generasi bahwa aku bisa berkuliah di kampus Ganesha tersebut, harapakanku saat itu.

Passing Grade SBMPTN untuk diterima di STEI ITB adalah 63% sehingga aku menentukan target nilai sebesar 70%. Kukira awalnya nilai setinggi itu adalah nilai yang bisa diraih layaknya seperti mendapatkan nilai 80 di Ulangan Harian atau Ujian Sekolah. Akan tetapi, Passing Grade seperti itu sangatlah tinggi. Try Out pertamaku saja hanya mendapatkan nilai 31%, nilai yang masih jauh sekali dari target yang ingin kuraih, minimal adalah STEI ITB itu sendiri, 63%. Ternyata bayangan akan SBMPTN jauh lebih besar dan lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku hanya mengerjakan dengan benar 45 soal dari 90 soal TKPA dan 12 soal dari 60 soal TKD Saintek. Sangat jauh bukan? SBMPTN itu benar-benar sulit dan perlu belajar yang lebih daripada sekedar soal, melainkan mengenai konsep yang lebih mendalam.

Sejak saat itu, aku benar-benar meneguhkan niatku agar semangat dalam belajar SBMPTN dan serius dalam meraih cita-citaku itu. Tidak ada perkembangkan try out yang signifikan di semester 1 karena nilai tryout-ku selama semester 1 saja tidak ada yang diatas 50% atau setengah dari paket soal yang benar. Dengan nilai tryout yang belum memuaskan, selama liburan semester 1, aku mengorbankan waktu liburanku dengan belajar SBMPTN melalui buku-buku SBMPTN yang kumiliki. Aku membuat jadwal sendiri untuk belajar Matematika, Fisika, Kimia, TPA, dan seterusnya. Selain itu, aku sering belajar bersama dengan teman-teman seperjuanganku baik di bimbel maupun di sekolah.
Memasuki semester 2, jadwalku menjadi super sibuk karena muncul Ujian Praktek dan TO sekolah yang cukup berat bagiku. Ditambah lagi pembelajaran di bimbel dan TO SBMPTN juga. Try out pertamaku di semester 2 adalah akhir Januari. Semangatku semakin bertambah. Puji Tuhan, try out di semester 2 akhirnya ada perkembangan. Aku mendapatkan nilai TO sebesar 55%. Tinggal 15% lagi aku bisa mencapai target paling amanku, yaitu 70%. Aku merasakan manfaat dari belajar SBMPTN selama liburan semester 1 selama 2 minggu itu.
Memasuki bulan Februari, hari-hariku bertambah sibuk. Ditambah lagi, Ujian Praktek yang membutuhkan persiapan yang lebih. Hampir tidak sempat aku mereview pembelajaran SBMPTN selain di bimbel karena sampai rumah aku langsung mempersiapkan diriku untuk Ujian Praktek. Disaat teman-teman lainku memilih untuk bolos, aku justru mengikuti bimbel itu sendiri sampai-sampai kelas bimbelku pernah hanya hadir 4 orang untuk belajar SBMPTN. Di bulan ini juga, pengurusan jalur SNMPTN dimulai. Seperti yang sudah disebutkan, SNMPTN adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes dan hanya melihat nilai rapor dan aspek-aspek khusus dari setiap universitas. Bisa dibilang jalur ini adalah Golden Ticket masuk ke PTN karena hanya orang-orang terpilih saja yang bisa masuk dan lolos SNMPTN ini.
Pada tanggal 9 Februari, semua siswa kelas XII diberikan username dan password dari Wakil Kepala Sekolah untuk mendaftar SNMPTN. Puji Tuhan, aku mendapatkan kuota SNMPTN pada tanggal 21 Februari 2018. Lalu aku mengikuti langkah demi langkah dalam pengisian pendaftaran SNMPTN. Saat pemilihan Program Studi dan PTN, aku menekadkan diri untuk mengambil  pilihan yaitu Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai tambahan, ITB berbeda dengan PTN lain dalam hal memilih prodi, yaitu prodi yang dipilih adalah fakultas terlebih dahulu. Melihat kuota sebanyak 252 kursi dari 2195 peminat tahun lalu dan kuota SNMPTN adalah 60% mahasiswa ITB membuatku merasa tenang karena setidaknya aku memiliki peluang 12% untuk masuk ke STEI ITB ini.
Setelah melakukan finalisasi, aku pun melepaskan segala kekhawatiranku dan mencoba untuk menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan yang senantiasa menyertaiku. Pengumuman SNMPTN dilaksanakan pada Selasa, 17 April 2018 pukul 17.00 WIB. Bagiku, SNMPTN hanyalah undian sehingga aku tidak berharap banyak pada jalur tersebut. Aku pun tetap fokus dalam jalur SBMPTN. Semangatku untuk mengincar ITB membuatku seringkali mengorbankan waktu belajar untuk Tryout, UTS, UAS, dan Ujian Sekolah untuk belajar SBMPTN saja. Aku termotivasi oleh pengalaman kakak pengajar yang menyarankan belajar SBMPTN saja karena yang diperoleh dari SBMPTN adalah konsep-konsep yang mendasar sehingga secara otomatis tes-tes di sekolah pun relatif lebih mudah dibandingkan SBMPTN yang super sulit.

Mindset untuk fokus SBMPTN benar-benar aku jalani penuh, khususnya untuk mata pelajaran IPA dan Matematika sehingga aku tidak perlu Lelah-lelah lagi untuk belajar UN seperti Fisika karena sudah terpelajari dalam SBMPTN. Bagiku, kesehatan jauh lebih penting daripada diforsir buat belajar terus-menerus sampai begadang. Di saat teman-temanku begadang sampai jam 1 pagi, aku tidur pukul 10 malam paling terlambat karena aku sampai di rumah pukul 9 malam. Melihat semester 1 aku yang sering begadang, di semester 2 aku jarang begadang, hanya sesekali saja karena aku sudah bisa memanajemeni waktu untuk semuanya itu. Dan ternyata, manfaatnya benar-benar kurasakan. Dalam Try Out Sekolah pertama, aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa meraih peringkat 1 sekolah. 5 mata pelajaran UN kecuali Bahasa Inggris aku berhasil menjadi yang tertinggi meskipun dalam 2 hari tryout itu aku pulang malam pukul 8 dan hanya bermodalkan belajar SBMPTN yang kupelajari, terutama Matematika, Fisika, dan Kimia, sedangkan untuk Biologi aku hanya mengandalkan logika dan apa yang menurutku benar. Puji Tuhan, semuanya karena mukjizat Tuhan. Begitupula saat Ujian Sekolah, aku juga mementingkan SBMPTN sampai memilih mengikuti bimbel yang hanya ber-3 saja ketimbang Ujian Sekolah sesuai dengan mindsetku yang menganggap bahwa apa yang menjadi materi Ujian Sekolah adalah sebagian dari materi SBMPTN yang kupelajari. Hasil lainnya adalah saat Ujian Nasional aku telah siap dan Puji Tuhan aku lancar dalam mengerjakan karena banyak latihan dari SBMPTN tersebut.
Selesai UN, selesai sudahlah perjalananku di sekolah, tinggal menunggu pengumuman kelulusan sekitar sebulan kemudian. Sebulan kemudian juga sekaligus ujian SBMPTN sehingga jadwal sebulan kedepan adalah program intensif dari BTA. Dua minggu sebelum pengumuman, aku berdoa selama 9 hari berturut-turut agar aku boleh diterima di STEI ITB. Semakin hari aku semakin yakin bahwa aku pasti lolos STEI ITB. Pengumuman itu dikeluarkan ketika aku sedang mengikuti kelas di BTA, jadi aku harus menahan hasratku untuk membuka pengumuman tersebut. Keyakinanku juga semakin bertambah ketika aku melihat temanku, Enrico, yang lulus SNMPTN 2018 masuk ke STEI ITB. Aku turut berbahagia atas kelulusannya dalam SNMPTN itu dan kebahagiaan itu bercampur rasa tangis bahagia selama perjalanan pulang menggunakan motor, membayangkan bagaimana kedua orang tuaku menangis tersedu dan bahagia ketika aku mengatakan bahwa aku lolos SNMPTN. Namun, realita berkata lain. Ternyata, aku dinyatakan tidak lulus dalam SNMPTN 2018.


Aku masih ingat betul bagaimana kekecewaanku setelah melihat hasil pengumuman SNMPTN 2018. Aku sampai menyendiri selama beberapa jam sampai lupa makan malam. Mamiku menghampiriku dan menenangkan diriku serta memberikan semangat untuk berjuang dalam rencana berikutnya, yaitu SBMPTN 2018. Aku sempat bergejolak karena aku sudah berjanji kepada Papiku agar dalam SBMPTN, pilihanku adalah Ilmu Komputer di UI atau IPB. Di malam hari itu, aku mencurahkan kesedihanku dan curhatku kepada sahabatku, Analisia. Dia memberikan semangat kembali kepadaku saat aku benar-benar down, padahal dia juga tidak lulus dalam SNMPTN. Aku dan Ana sama-sama pejuang dalam SBMPTN dan kami sama-sama mengikuti bimbel di BTA 8 Jakarta. Dia memberikan support yang begitu besar kepadaku dan lebih dari 1 jam dia mendengarkan semuanya curhat dari diriku.
Esok harinya, aku pergi ke BTA dengan harapan kosong. Tiba-tiba saja, muncullah dorongan yang memaksaku untuk kembali memilih STEI ITB dalam SBMPTN. Sungguh nekad! “Passing Grade STEI ITB itu paling tinggi dan aku mencoba untuk mengambil kesempatan lagi untuk sesuatu yang hal yang benar-benar tidak pasti.”. Itulah yang ada dalam pikiranku. Selain itu, aku juga mengetahui kalau kuota SBMPTN di ITB hanya 40% mahasiswa ITB dengan peminat yang 2x lebih banyak dari SNMPTN, karena aku bersaing dengan angkatan 3 tahun terakhir, baik mereka yang gap year atau ingin mencoba-coba saja. Aku pun berkonsultasi ke BTA-ku dan BTA-ku itu menyarankan agar aku memilih STEI ITB. Dengan penuh kenekadan dan keberanian, akhirnya aku menambahkan 1 prodi lagi untuk STEI ITB di pilihan pertama. Papiku yang awalnya sangat kontra denganku, akhirnya pun memberikan kebebasan untukku dalam menentukan pilihan SBMPTN. Melihat teman-temanku masih ada yang berjuang di SBMPTN, semangatku pun kembali mencuat. Aku benar-benar mengikuti bimbel di BTA dengan sungguh-sungguh. Puji Tuhan, Try Out selanjutnya setelah pengumuman SNMPTN aku memperoleh nilai sebesar 61,5%. Disinilah aku dikuatkan kembali karena ada akhirnya try out yang mendekati Passing Grade dari STEI ITB sebesar 63%. Aku mengikuti bimbel dengan sungguh-sungguh dan mereview di rumah sampai pada hari pertempuran yang sebenarnya, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2018 (SBMPTN 2018) yang dilaksanakan Selasa, 8 Mei 2018, tepat 3 minggu setelah pengumuman SNMPTN.
Selasa, 8 Juli 2018. Hari terpenting dalam hidupku. Hari yang akan menentukan masa depanku. Sebelum aku mengikuti SBMPTN 2018, aku dan kedua orang tuaku bersama-sama meminta pertolongan Tuhan dan mendoakan aku dalam mengikuti tes SBMPTN pada hari itu. Sepanjang perjalanan aku berusaha menenangkan diri dengan iringan lagu-lagu rohani yang kuputar sendiri dalam pikiranku. SBMPTN dimulai pada pukul 7 pagi. Ketika aku memperoleh naskah TKD Saintek, entah mengapa hatiku begitu tenang, dan saat aku membuka soal-soal itu, hatiku juga tetap tenang dan menyatakan aku siap mengerjakan SBMPTN dalam tangan Tuhan. Sepanjang pelaksanaan SBMPTN itu, aku terus memuji-muji Tuhan melalui iringan lagu rohani yang terngiang-ngiang baru-baru itu, yaitu Here I am To Worship. Keluar dari kelas, perasaan yang berbeda muncul dari diriku. Aku merasa benar-benar bebas dan bersyukur karena aku boleh mengerjakan TKD Saintek dengan lancar. Begitupula dengan TKPA. Puji Tuhan, aku berhasil melewati seluruh rangkaian SBMPTN dengan baik dan lancar. Segala hasil dari SBMPTN hari ini aku serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Kekhawatiran Papiku dan aku pun masih ada. Aku masih belum memiliki cadangan PTS saat itu. Status aku saat itu masih pengangguran dan belum punya universitas. Sebagai cadangan, aku mengambil cadangan-cadangan sebagai berikut :
1.     Ilmu Komputer – Universitas Indonesia (UI) – SIMAK UI
2.     Ilmu Komputer – Universitas Gadjah Mada (UGM) – UTUL UGM
3.     Teknik Informatika – Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) – SMITS
Begitu nekad bukan? Aku memilih cadangan yang sebenarnya tidak cocok jika disebut cadangan. Ketiga pilihan itu adalah jalur mandiri dari PTN yang memang kumau dan aku setujui, begitupula dengan kedua orang tuaku. Pengumuman SBMPTN 2018 dilaksanakan pada Selasa, 3 Juli 2018 pukul 17.00 WIB. Aku pun juga harus menunggu 58 hari atau 8 minggu untuk melihat pengumuman itu. Selama berminggu-minggu aku belum merasakan liburan yang sesungguhnya karena seringkali aku terpikirkan bilamana aku tidak lolos di SBMPTN dan terus menanti pengumuman itu. Sekitar dua minggu sebelum pengumuman itu, aku terjatuh sakit tipes sehingga aku harus dirawat di rumah sakit selama 1 minggu dan perawatan total di rumah selama 1 minggu. Aku pun stress karena aku harus mempersiapkan UTUL yang dilaksanakan 5 hari setelah pengumuman SBMPTN bila aku gagal di SBMPTN.
Di saat aku benar-benar down hanya berbaring di rumah sakit, Mamiku sering membisikkanku setiap malam, kalau setelah aku sembuh, aku akan berbahagia dan penuh sukacita. Itu sangat menghiburku dan aku pun juga mengimani apa yang Mamiku sering katakan. Jujur saja, dalam 8 minggu itu aku lebih banyak lupa dan malas untuk berdoa lagi, tidak seperti ketika SNMPTN. Namun Tuhan itu sungguh baik. Di setiap minggunya itu juga aku juga sering diingatkan agar jangan berputus asa dan terus percaya, bisa melalui nasihat kedua orang tuaku maupun support-support dari sahabat-sahabatku.
Memasuki hari pengumuman SBMPTN, aku bangun tidur dengan penuh gairah. Aku terus berdoa agar aku dikuatkan lebih lagi untuk melihat pengumuman itu. Banyak kejutan-kejutan tak terduga yang terjadi hari ini. Semua dimulai dari pengumuman SBMPTN yang tiba-tiba dimajukan dari pukul 17.00 WIB menjadi pukul 15.00 WIB. Sebelum Papiku pergi pukul 15.00 itu, aku langsung berteriak kalau pengumuman SBMPTN dimajukan. Mengingat pengalaman SNMPTN yang begitu mengecewakan, rasa takutku sangat tinggi saat itu sehingga aku tidak berani untuk membuka sendiri lagi seperti SNMPTN dan memilih Papiku yang membukakan pengumuman tersebut. Aku menutup mata dan Papiku yang mengklik Hasil Pengumuman. Setelah diklik, aku membuka mataku perlahan-lahan dan ternyata, ASTAGA, APAKAH INI MIMPI? AKU LOLOS SBMPTN 2018 KE STEI ITB! Sungguh, bahagianya bukan main. Aku langsung berlari-lari ke dapur lalu kembali lagi dan langsung memanggil Mamiku yang diwarung. Aku  pun memeluk dengan erat kedua orang tuaku yang juga begitu bahagia melihat anaknya yang berhasil masuk ke STEI ITB. Aku tidak tahan lagi untuk menahan kebahagiaan sehingga meluaplah seluruh tangisanku sampai 10 menit lebih. Selama kelas XII itu aku sering membayangkan bagaimana bahagianya kedua orang tuaku melihat anaknya berhasil. Aku benar-benar bersyukur atas apa yang boleh kuterima, semua berkat Karunia Tuhan karena aku benar-benar diizinkan untuk masuk ke STEI ITB ini.

Terima kasih, Papiku yang telah memberikan kebebasan kepadaku dan sekarang aku telah membuktikannya. Terima kasih sebesar-besarnya untuk para sahabatku yang telah mensupport aku dari awal sampai akhir, Sofie, WK, Andi, Priscilla, Thalia, dan banyak lagi orang-orang yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk sahabat terbaikku, Analisia Marvella. Dialah support hidupku yang paling besar dalam relasi persahabatan. Puji Tuhan, yang paling tidak disangka-sangka juga adalah, Ana dan Clarine sama-sama masuk ke ITB dalam fakultas yang sama, SAPPK!!! Sama-sama BTA, sama-sama ITB! Terima kasih sebesar-besarnya untuk Tuhan.
Jadi, disinilah aku, Kampus Tercinta, Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Program Studi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Angkatan 2018. Sungguh bahagia dan bersyukurnya aku bisa masuk ke Perguruan Tinggi yang kuinginkan dari dulu. Puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan karena akhirnya aku bisa mengenakan jaket almamater ITB ini. STEI 2018! Begitulah kisah perjuanganku untuk meraih impian ke STEI ITB. Banyak sekali suka duka yang kurasakan sampai pada akhirnya aku benar-benar resmi menjadi mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung. Untuk para pejuang PTN, tekadkanlah semangat dan niat kalian yang sebesar-besarnya. Beberapa tips yang bisa aku sampaikan kepada kalian para pejuang PTN selanjutnya adalah :
1.   Persiapkanlah SBMPTN sejak awal memasuki kelas XII, karena percayalah untuk semester 2 itu super sibuk dan hampir tidak ada waktu untuk belajar SBMPTN. Gunakanlah setiap waktu luang yang ada untuk belajar SBMPTN.
2.     Jangan terlalu mengandalkan jalur SNMPTN. Persiapan SBMPTN bukan hanya sekedar belajar untuk tes seleksi masuk saja, melainkan ilmu-ilmu belajar SBMPTN itu bisa tertanam dalam diri kalian (karena dalam SBMPTN lebih menekankan pada konsep dasar).
3.     Tetap semangat dan pantang menyerah! Jatuh bangun itu adalah hal yang biasa. Aku juga merasakan naik turunnya semangat belajar, namun jangan sampai akhirnya berhenti dan putus asa. Segala sesuatu membutuhkan proses atau usaha. Usaha itulah yang akan membuahkan hasil yang sebanding dengan usaha tersebut. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
4.     Cobalah belajar dalam kelompok. Tidak ada salahnya jika belajar SBMPTN bersama-sama, namun harus serius dan gunakanlah sebaik mungkin waktu bersama untuk diskusi setiap soal, karena diskusi soal bersama-sama cenderung membuat satu kelompok tersebut menjadi mengerti dan jelas. Cobalah minimal satu atau dua minggu sekali untuk belajar kelompok.
5.     Yang paling penting dari semuanya itu adalah tetaplah berdoa dan percaya kepada Tuhan. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita, sebab Tuhan sudah memiliki rencana terbaik untuk kita selama kita terus bertekun dan berhimpun kepada-Nya.

Demikian pengalaman perjuangan masuk ke STEI ITB yang bisa aku bagikan. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca. Goodluck dan tetap semangat menuju kampus impian!
Plaza Widya, STEI 2018


Analisia (SAPPK), Hans (STEI), Clarine (SAPPK)


Thursday, June 15, 2017

Penyesalan Seorang Remaja (part 3 / last)


Penyesalan part 3 atau penyesalan last.. wah banyak banget yg gue sesalinn ya.. ckckckck.. udah gitu postnya telat bgt lagi, dari part 2 yg adalah Januari 2017 ngeskip ke Juni 2017.... selama 6 bulan itu gue sibukk, banyak kerjaan (gaya bgt), yaa, kehidupan anak kls XI, disisi lain di smt 2 itu gue lagi sibuk-sibuknya tuh, bergumul dengan OSN-an lagi, yaudahhlah.. lengkap sudah wkwkwk.. dah ah lama banget basa-basinya.. mungkin yg gue tulis ini akan menjadi penyelesalan terakhir yang sekaligus membuka jalan atau solusi untuk selanjutnya.. bila ada penyesalan lain di masa depan, itu mungkin sudah akan terangkum di trilogy ini (what trilogy) wkwkw.. ntahlah, gue blm merasakan kehidupan dewasa nanti.

Baiklah, di penyesalan terakhir ini yang sekaligus menutupi kedua part sebelumny, ada 1 hal yang bener-bener gue sesalin, yaitu akar dari kedua penyesalan sebelumnya, yaitu adalah terlalu banyak mengeluh, terlalu ingin menjadi apa yang orang lain inginkan, terlalu banyak "hide" dari reality. Yap, ternyata setelah gue telusuri, gue sering ngeluh, yang berujung pada, gue seringkali dengki dan cemburu dengan orang lain yang nasib sosialisasinya jauh lebih baik dari gue. Sempat ya, perasaan ingin "suicide" muncul sekitar beberapa hari setelah tes OSP, dimana gue merasa gue bener-bener upset akan diri gue. Ekspetasi ketika hari pertama masuk sekolah setelah serangkaian OSN adalah begitu bagus, misalny adalah rasa kangen bertemu teman-teman dan sahabat-sahabat yang bisa terlampiaskan. Namun kenyataannya apa? Justru menjadi hari yang begitu mengecewakan, bukan salah mereka, tetapi SALAH GUE SENDIRI. Ntah knp mungkin gue kesambet setan, timbul lah rasa dengki dan cemburu kembali dengan mereka yang benar-benar supel, mereka yang benar-benar dibutuhkan, dan mereka yang benar-benar bisa akrab dengan orang-orang disekitarnya.

Apalagi, ada 1 hal yang bener-bener membuat gue dengki banget, yaitu soal keakraban. Momen yang harus membuat gue tabah banget adalah.. ketika gue bersama kedua temen gue sedang berjalan bersama-sama, seperti jalan ke kantin, jalan pulang, dan lain-lain. Timbullah rasa cemburu yang begitu besar sama 2 tmn gw yg nyatanya ngobroll trus, tapi gue gabisa nyambung sama percakapan mereka, apa yg ada dipikiran gue? Gue cemburu karena pikiran gw bener-bener dangkal bgt, maksudnya ya, gue gabisa nyambung gtu sama obrolan-obrolan mereka. Akibatnya, mereka asik berbincang, gue memilih berjalan di depan mereka atau di belakang mereka. Padahal idealny adalah gue jalan di samping mereka, seolah-olah jalan ber3 gtu. Sempat gue curhat ke sahabat gue, ternyata 1 kunci buat semuanya itu adalah "cuek".

Jadiii, gue blm lama ini baru sadar kalau, cuek juga sebenernya dibutuhkan, gak selamanya gue harus peduli gtu. Cuek konotasiny negatif sih, tpi cuek yg dimaksud adalah "gausah mikirin hal-hal yang gapenting kyk dengki sama org". Telat bgt gue sadarnya astaga. Yg memotivasi gue itu adalah sahabat gw yg bisa menerapkan cuek seperti itu dan mereka yang nasibnya lebih parah dari gue gtu. Sekian kalau penyesalan mengenai cemburu ttg sosialisasi. Selain cuek, yang gue harus lakukan adalah mau menerima mereka semua dengan apa adanya, dan menerima diri gw sendiri meskipun memang sulit untuk "tersambung" dengan percakapan mereka tapi, setidaknya tetap bergabung dalam perbincangan tersebut, meskipun hanya sekedar menjadi pendengar, tapi yang penting bisa menutupi perasaan-perasaan negatif tersebut.

Hal yang kedua yg gue sesalin adalah negative thinking. Gue adalah pemikir negatif. Karena negative thinking ada koneksi dengan yang namanya cemburu juga, jadi kebanyakan hal negatif yang gue pikirkan adalah gue merasa gak diterima dimanapun alias gak dibutuhkan siapapun. Termasuk dengan sahabat-sahabat dan geng gue sendiri.  Seringkali gue menghabiskan waktu menyendiri untuk bergumul dengan pikiran gue sendiri. Gue berperang dengan pikiran jahat yang ada di arena pikiran gue itu sendiri. Karena sulit terselesaikan, lama" yang ada gw kebanyakan menyendiri karena terlalu fokus dengan "perang" itu. Padahal, seharusnya gue cuek dengan hal semacam itu, bertindak apa adanya.

I know, it's a mistake. Ga seharusnya gue terlalu lama bergumul dengan pikiran gue sendiri, akibatnya? Gue menjadi orang yang sering berdiem diri lama-lama, alhasil, gue kurang bersosialisasi juga, segala skill buat socializing gue semuanya menurun. Ditambah lagi, gue mulai timbul perasaan "suicide" seperti yang udh gue mention sebelumnya. Pemikiran "suicide" karena merasa ga dibutuhkan dan terlalu overthink sehingga lelah dan mau berhenti hidup rasanya. Lebih parahnya lagi adalah, gue merasa bahwa diri gue ini gaada unik-uniknya sama sekali. Gue gapunya skill dibidang apapun rasanya

Gue begitu bodoh memikirkan semuanya itu. Pada awalnya, gue memendam semua hal ini, sampai akhirnya ketika beberapa hari sebelum UAS, gue melampiaskan semua keluh kesah ini ke sahabat-sahabat wu. Gue ga sangka, mereka lah yang bisa membuka mata hati gue kembali. Mereka mengingatkan gue betapa harusnya gue bersyukur atas hidup yang gue miliki ini, mulai dari keunikan gue sampai skill  yang gue ga sadari. Ada satu pernyataan yang sekaligus menjadi prinsip hidup dari salah satu sahabat gue.

"Hargailah hidup, karena banyak orang yang menyayangi kita. Kita harus bisa hidup untuk menyayangi balik orang yang sayang sama kita."

Mungkin terkesan, lebih kearah saling menyanyangi, namun gue menemukan makna yang begitu banyak dibalik prinsip hidup tersebut. Mulai gue merasa hidup gue lebih bermakna, secara tidak langsung, perasaan cemburu pun mulai berkurang dan lebih mementingkan "menyayangi balik orang" itu tersebut. Gue merasa hidup gue mulai lebih bermakna sejak saat itu. Perasaan cemburu pun mulai bisa terkontrol kita terpicu, karena "dijinakkan" oleh prinsip hidup tersebut yang selalu nyantel di  dalam pikiran gue. Terimakasihhh banyakk :D. Ketika ada sesuatu yang memancing, langsung gue jinakkan dengan prinsip hidup tersebut, hilang seketika wkwwk. Intinya, gue nyesel buat semua kecemburuan yang menjadi akar dari kedua penyesalan sebelumnya, dan gue sadar seharusnya gue memikirkan hal yang jauh lebih bermakna, yaitu mengenai "menyayangi" itu. Karena konotasinya terlalu gimana gtu (lol), gue ubah menjadi "mengasihi". Mengasihi merupakan kunci untuk menutupi semua kemungkinan jahat seperti cemburu yang seringkali muncul di sekitar kita. Yang paling pasti ialah, semuanya kembali dilandasi dengan rasa syukur yang besar atas hidup yang kita miliki.


Sekiann dari tulisan ini, selesai sudah penyesalan trilogy ini, semuanya sudah diakhiri dengan prinsip hidup sebagai penawar sekaligus penutup semua penyesalan ini. Penyesalan pun menjadi pelajaran hidup untuk gue kedepannya. Buat readers yang membaca ini, posisikan kalau "gue" itu adalah kalian sendiri. Terimakasihh telah menyediakan waktu untuk  membaca postingan ini.. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang lain dan semoga Tuhan memberkatii kita semua. God bless you..

Tuesday, January 24, 2017

Penyesalan Seorang Remaja (part 2)

Penyesalan part 2...awalnya mau gue post 1 minggu setelah part 1 dipost, namun nyatanya justru 1 bulan kemudian? Kenapa? Yaa begitulah.. kehidupan anak sekolah *eh anak sekolah* padahal kan desember itu liburan kan? Yaps, memang benar sedang liburan, namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.. Ada sesuatu yang mungkin jauh lebih disesali dibanding pemikiran gue sebelumnya.. Yakss.. kali ini gue akan bercerita tentang kejadian real yang bener" nyantel bgt di otak gue saat ini.. Baru saja terjadi.. Hehehe.. Baiklah.. gue akan bercerita.. Mungkin agak sedikit curhat(?) tpi gapapalah yak biasanya gue jg curhat ehehe *pdhl bru post 2-5 kali*.. Yak langsung saja..

Mungkin gue akan menyesali semuanya ini untuk seumur hidup gue.. ntah harus disesali atau tidak.. menurut pandangan masing" aja deh yg akan membaca penyesalan ini ehehe.. Gue sendiri bingung hrs bilang ini apa..

Semua berawal dari diri sendiri, diri sendiri. Seiring bertambahnya umur, pemikiran gue semakin luas, dan tentunya perasaan dan emosional gue semakin tergoncang-goncang. Di part 1 itu menceritakan bagaimana gue menjalani keadaan gue di SMP. Sekarang, umur gue berjalan menuju 17, sekitar *..* bulan lagi. Aduh intermezo terlalu panjang yah,, gpp kan guys?

Di SMA, gue mulai mencoba untuk mengubah perilaku gue menjadi lebih baik, terutama sifat. Namun pepatah mengatakan kalau sifat itu sulit diubah bukan? Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sifat itu sudah dasar dari kepribadian dan jiwa orang yang menjadi satu *ngomong apaan sih gw*.. Perilaku apa? Klo di part 1 gue bilang gue orang yang cuekan, ya berarti di SMA gue orangnya apa? PEDULIAN GUYS wkwkwk.. ah tapi pedulian gue mungkin tidak seperti yang kalian pikirkan.

Di awal kls X, gue mulai mencoba untuk membuka diri dengan orang lain. Nyatanya, untuk menjadi terbuka itu susah banget. Karena gue yakin keterbukaan otomatis membuat gue menjadi orang yang care sama orang-orang di sekitar gue. Namun, namanya juga proses belajar, gue tidak secepat mereka yang bisa dibilang "ekstrovert" dengan siapapun itu. Gue masih agak jaim, takut, dan pemalu. Gue tuh orangnya lugu guys. Mungkin banyak orang gatau sifat asli gue seperti apa. hanya beberapa saja. Setiap kali gue mencoba berbicara atau ngobrol, selalu saja gagal, selalu malu, mungkin udh 1000x lebih kali gue gagal untuk menjalankan plan gue untuk ngobrol dengan siapapun itu.

Setelah terbuka dengan orang lain, akhirnya gue mulai bisa berinteraksi satu sama lain guys. Gue bisa ngobrol dengan siapapun yang gue mau ketika gue mau. Kebetulan pas gw kls X, gue berada di kls dewa. Waw. Kelas dewa. Kelas dewa taulah apa itu. Kelas yang tidak tertandingi. Kelas paling pintar kalau soal pelajaran. Di kelas inilah gue diletakkan *emgny gue barang* hehehe.. Selama setahun itu, gue merasa bahwa gue bener" berubah banget. Gue jadi orang yang supel dan bisa terbilang "famous". Gue bener" mensyukuri saat" itu. Gue bener" nyaman dengan kelas itu, meskipun kelas dewa sebenernya kaku. Kenapa gue nyaman? Karena gue merasa mereka semua "kembar" sama gue.. Lah kembar.. kembarlah, orang kepribadiannya mirip" satu dengan yang lain.. Jadi gue dan kawan" gue disitu punya cara tersendiri dalam berinteraksi, bisa dibilang intelektual lah.. #anjas.

Loh? Trus masalahnya apa? Dimana letak pedulinya? Pedulinya itu sebenernya terselubung dibalik ke "supel" an gue itu. Kalian harus tau itu. Jadi gue pikir, kalau gue supel, berarti gue peduli sama setiap orang yang gue temui. Kalian tau kan? orang introvert itu mudah tersinggung? Nah kalo gue malah beda. Bukannya tersinggung, malah menyinggung, lain kata muncullah perasaan guilty banget. What do you know about guilty? Itu perasaan bersalah. *yes 100* wkwkwk.. maap gue rada mabok.

Di kls X, efek tersebut belum serasa sejak gue di kls XI. Di kelas XI inilah puncak dari penyesalan peduli itu. Sifat asli gue masih bener" kental di dalam darah gue. Di kelas XI, semua anak dari kelas dewa gue itu, terpecah" semua.. Yahh mau gimana lagi.. Akhirnya di kls XI ini, justru mengingatkan gue akan masa SMP gue.. Emg sih, seharusnya kelas itu emg seperti itu, namun ternyata gue malah memburuk seiring bertambahnya umur. Gue menjadi pribadi yang serba setengah. Setengah peduli setengah cuek. Di kls XI bukannya enjoy malah desperate rasanya. Perasaan gue sangatlah labil. Gue gatau harus ngapain lagi, tpi inilah hidup gue.

Banyak orang yang kesel dan mungkin saja benci sm gue, gue sndiri gatau knp mereka membenci gue, apa gue terlalu baik atau gimana. Kok bisa? Jelas bisa, semenjak pisah kelas dengan temen" lama, dan bertemu teman" baru. Nah gue tuh nyesel pas ketemu temen" baru itu. Gue tidak memanfaatkannya sebaik mungkin. Yg ada gue kyk kls IX lagi. diemm aja. diemm aja. hemat ngomong yes. Bahkan gue merasakan efek samping dari serba setengah itu. Apa? Gue serasa bukan siapa" lagi. Gue jdi bimbangan, yang mana orang" yang harus gue pilih, gue ajak main, gue ajak ngobrol. Karena apa? Gue hanya peduli di "awal". Awal percakapan mksudnya. Peduli disini kan berarti supel kan? Nah itulah peduli yg gue maksud..

Gue merasakan dampak buruknya.. Pikiran gue sekarang serba kosong, krn rasa bimbang itu sendiri. Gue selalu menjadi orang paling diam ketika dalam berdiskusi atau apaapun itu. Gue hanya ngomong to the point saja. Di lain hal, gue pun mudah merasa bersalah terhadap apapun itu. Gue bilang di awal, masalahnya bukan gue merasa tersinggung, tpi justru gue yang menyinggung, timbullah rasa bersalah. Singgungannya bisa dalam bentuk apa aja yak. tpi yang gue tekankan disini adalah perasaan bersalah itu sendiri. Gue pun akhirnya jatuh dalam depresi gue. Inside I was screaming! Guru gue pun ternyata ada yg bisa nebak kalo gue tuh orangnya diluar diem, tpi didalem berteriak. Gue depresi. Depresi, dan Depresi. Pikiran gue ga fokus, nilai anjlok, buyar sudah!

Sekarang akhirnya gue bingung, kalau gue memilih menjadi care, perasaan bersalah makin banyak bermunculan, karena pada akhirnya, saat ini terutama, gue merasa bahwa segala sesuatu yang gue lakukan adalah serba salah, tak ada yang benar. Nah kalo gue jadi cuek, gue selalu tergoda agar ingin berbicara dengan orang lain. Toh, ini masa SMA. Masa eksplorasi, yg cuek bakal dicuekin abis-abisan, yg supel bakal disupel abis-abisan. Gue merasakan bgt kesenjangan itu di kelas gue ini, di kls XI. Gue ada di tengah" itu, bimbanglah sudah, tidak dekat dengan siapapun. Sedihh.. Tpi yg terjadi sudahlah terjadi.. Gue hanya bisa menjalani hidup ini dengan sebaik"nya.. Lonely..Lonely..and Lonely.. Pikiran gue bener" tergoncang! Desperate!!!

Everything's gone wrong! I hate all! Btw, soal supel dan famous, Neither. Ughh.. how lonely is my life.. just like old times, but worse than old times.

Friday, December 2, 2016

Penyesalan Seorang Remaja (part 1)


Hmm.. penyesalan... sepertinya setahun lalu gue udah pernah ngepost tentang ini.. tapi sekarang gue mau melanjutkannya.. Mungkin kalian bertanya-tanya apa hubungannya antara gambar puppet atau wayang dengan postingan ini? Simaklah narasi berikut ini (azekk :v)

Sedih ga sih kalo mikir tentang apa yang telah kita lakukan di masa lalu? Sedih ga sih kalo yang kita pikirkan adalah kenangan atau masa lalu yang buruk? Sedih ga sih kalo kita mengenang tentang berbagai hal bodoh atau hal yang ternyata salah namun kita telah lakukan di masa lalu? Yes.. that's what I feel.. I feel like a dumb.. No No.. dont feel like that..

Yes.. gue merasa bodoh... ketika gue menjadi seorang yang pendiam di saat gue kecil hingga remaja pertengahan sekarang ini.. Selama gw pendiem, ternyata banyak hal yang gue lewatkan.. misalnya saja keseruan-keseruannya, canda-candaannya, bahkan tantangan-tantangan yang telah gue miss ketika kecil, khususnya ketika SMA. Banyak hal yang awalnya gue sangka ga berguna, ternyata malah bikin ngangenin, ketika sudah beranjak 15 tahun keatas ini. I feel like... "why wouldn't I do dat?" hmmm.. sempat pula terpikir dalam benak pikiran gue seperti ini.. "Why does the time fly so fast?".. Hmm tapi mau bagaimana lagi.. waktu akan terus berjalan dan takkan pernah berhenti bukan?

Di saat gue kecil, gw punya mindset, yakni "Diam adalah emas." namun gue tidak melihat latar belakang dari pernyataan tersebut. Benar. Latar belakang dari pernyataan tersebut adalah agar seseorang mampu berpikir secara jernih ketika menghadapi sebuah problem. Namun yang gue lakukan adalah.. menerapkan mindset tersebut untuk setiap hari, bukannya menghadapi sebuah problem yang spesifik. Gue merasa bodoh atau gimana ya.. tapi semua telah terjadi. Gue sangat anteng buat menjadi seorang pendiam parah. Pendiam yang gue maksud adalah pendiem sekaligus tertutup, sehingga bisa disebut pula bahwa ketika gue dulu, gue adalah seorang yang begitu introvert. Gue tidak mengerti tentang keadaan sekitar, gue sangatlah tertutup terhadap lingkungan di sekitar.

Kalau introvert pada umumnya kan, masih mengetahui tentang informasi sekitar dan bisa memikirkannya di dalam benak mereka. Banyak dari teman-teman gue yang menurut gue seperti itu. Seintrovert-introvertnya, masih mengenal keadaan sekitar, up to date, dan tentunya peduli pada keadaan sekitar, misalnya saja ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan mendadak, orang tersebut langsung menghampiri dan membantunya, namun di luar itu tetap tertutup. Namun apa yang terjadi dalam diri gue? Gue tidaklah seperti itu ketika dulu..

Puncak keintrovert-an gue adalah ketika SMP. Kalau pas SD, mungkin masih bisa ditoleran, namun pas SMP sebaiknya gue bisa berkembang dong. Namun alhasil, tidaklah demikian. Just a bit. Gue sangat anti sosial, bahkan kadangkala gue tidak mengenal orang yang ternyata sejemputan sama gue dulu. Gue baru kenal sekitar 3-5 bulan kemudian. Itu kan waktu yang cukup lama bukan? Di lain hal, gue adalah orang yang sangat cuek terhadap keadaan sekitar. I dont give a f'k.. Karena cuek yang parah itu, bisa dibilang gue adalah orang yang egois, hanya mementingkan diri sendiri, padahal kan gue juga sering ditolong sama orang, namun gue tidak menolong dengan baik. Akibatnya apa? Kawan yang gue dapet selama SMP sangatlah dikit, gue hanya sekedar tau nama dari setiap orang yang gue tau.

Gue ga pernah kenalan sama orang. Selalu orang tersebut yang kenal gue duluan. Padahal sebetulnya, ga semua orang mau kenalan sama gue. Banyak juga yang ternyata seperti gue ini. Alhasil, tidak ada komunikasi satu sama lain jadinya, lebih parah. Untuk mendapatkan kawan saja susahnya minta ampun  dulu, apalagi mencari seorang sahabat? Huhhh.. tapi yasudahlah itu sudah berlalu... Tatkala gue pun sedih melihat diri gue yang dulu seperti itu.. apa yang akan terjadi ke depannya kalau begini terus?

Akibat lain dari keintrovert-an gue apa? Gue mudah dibodohi juga ternyata. Mungkin terlihat aneh ya.. kenapa mudah dibodohin juga, padahal di dalam kediaman gue itu, sebetulnya isi pikiran gue kebanyakan adalah pelajaran dan permainan, berarti tau dong berarti nilai gue pas SMP bisa dibilang bagus dan meyakinkan (lol).. dan isi otak permainan gue ini membuat gue sering bermain games-games yang tidak membuat gue bosan (sekarang kalo disuruh main malah cepet bosen :v)... Hmmm seems contradictive? But that's the truth.. Dibodohi.. Ah ga suka gue sama bahasanya.. Mudah terpengaruh. Gue adalah orang yang gampang banget dipengaruhi sehingga bisa dibilang gue mudah dibodohi dan dibohongi sama orang-orang lain, bahkan sama kawan yang gue terima di SMP (lol diterima :v).

Mudah terpengaruh oleh berbagai macam hal, mulai dari hal kecil sampai hal-hal yang besar. Hal kecil, misalnya saja, kata temen gue dulu, gue mau dijajanin, mau dibayarin, mau ditraktirin (lol ga gini juga)... nggakk... katanya gue mau dikasih sesuatu gitu setelah gue menolongnya.. eh taunya apa? Diundur-undur terus... sampe-sampe tuh orang lupa alias php-in gue.. Ehhh tunggu.. tapi dulu gue ansos.. gue dulu gatau kosakata tersebut.. PHP apa itu?? Gue dulu tidak begitu tau tentang istilah-istilah gaul gitu.. gue tertutup dan memilih untuk diam dan gue juga kaga nagihin ke mereka yang pernah bikin janji sama gue..


Ah itu terlalu biasa.. yang ini aja deh.. gue dulu orang yang terlalu jujur saking diemnya.. karena gue jarang berkomunikasi, gue jadi lost communication sama yang lain dan kemampuan bersosialisasi gue sangatlah rendah dan sangatlah buruk. Jadi ketika ada orang yang menuntut sebuah kejujuran, misalnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang privasi tentang diri gue.. gue malah menjawab jujur dengan seenaknya saja, seakan-akan gue terbuka sama semua orang gitu, namun ada efek samping dari apa yang gue lakukan itu. Yang ada apa? Iya.. aib gue malah disebar luaskan.. iya sih jadi canda-candaan juga.. namun candaan tersebut bukanlah candaan, karena menyangkut privasi dalam diri gue. 

Nah kalo itu hal kecilnya, ini ada hal besarnya.. Hal besarnya akan gue bahas di postingan selanjutnya hahahaha.. Stay tune guyss... Lebih tepatnya ini hanyalah curhatan seorang blogger xD.. Buat kalian yang mengalami hal serupa, tunggu kelanjutannya yaa.. :v... Bersambungg....

Sunday, November 20, 2016

Life Is A Choice


Choice.. Pilihan.. Setiap waktu kita akan dihadapi dengan adanya pilihan atau keputusan. Setiap tahun, setiap bulan, setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Tidak terhitung ada berapa banyak pilihan yang kita hadapi. Ketika gue nulis artikel ini aja, ini merupakan pilihan yang sudah gue putuskan. Ketika pilihan itu berada di hadapan kita, otomatis pilihan membuat otak kita untuk terbuka dan secara matang bekerja. Mengapa? Ya karena itu merupakan sebuah pilihan *you dont say*.. Baik sudah cukup intermezonya.. Jadi, sebenarnya apa yang mau gue sampaikan disini?

1.  Pilihan Dalam Kehidupan


Life is a choice. Hidup ini adalah pilihan. Dalam kita menjalani kehidupan, segala sesuatu akan bersangkutpaut dengan yang namanya pilihan. Pilihan atau keputusan adalah jalan yang kita ambil atau opsi yang kita ambil ketika dihadapkan oleh berbagai macam kemungkinan atau jalan. Hidup ini juga penuh dengan pilihan. Pilihan untuk tidur, pilihan untuk makan, pilihan untuk belajar, dan sebagainya. Tak terhitung berapa banyak pilihan yang kita hadapi setiap saat, bahkan setiap detik. Terkadang pilihan yang sudah kita ambil seringkali membuat kita merasa menyesal karena salah pilihan. Pilihan itu akan selalu berdampak buruk ataupun baik bagi kita di kehidupan masa depannya. Dan faktanya, seringkali kita hanya melihat sisi buruk dari sebuah pilihan yang kita ambil. Benarkah?

Misalnya saja, seseorang dihadapkan oleh sebuah pilihan untuk mengambil jurusan IPA atau IPS ketika SMA. Ketika orang tersebut memilih IPA, ia otomatis akan menjalani masa SMA tersebut dengan jurusan IPA. Namun seiring berjalannya waktu, muncullah rasa penyesalan yang tumbuh dan muncul dari dalam diri kita, misalnya saja, "Ah, hrsnya gue IPS aja, di IPA gw ga bisa apa-apa.. ga gue banget".. padahal sebelumnya sudah diberikan waktu untuk menentukan pilihan IPA atau IPS.

Begitupula sebaliknya dengan orang yang masuk IPS dan tiba" menyesal karena ternyata tidak sesuai yang yang dia harapkan dan berharap masuk IPA. Satu orang ingin di posisi orang lain, dan orang lain ingin di posisinya dia. Hal semacam ini sering terjadi di dalam hidup kita bukan? Itulah mengapa di awal gue katakan bahwa hidup itu adalah sebuah pilihan.

Lalu dalam hal yang sederhana saja. Pilihan setiap detik. Maksudnya adalah dalam setiap waktu kita memiliki pilihan untuk melakukan berbagai hal. Misalnya saja, saat ini kalian para pembaca, pastinya sebelum kalian membaca ini, kalian juga dihadapkan sebuah pilihan. Jika dibuat dalam bentuk soal akan menjadi seperti ini :

Apa yang akan gue lakukan sekarang ?
A.  Tidur
B.  Mengerjakan PR
C.  Nonton anime
D.  Membaca blog
E,  Olahraga

Sebenarnya, masih banyak pilihan lain yang bisa dilakukan, karena sebetulnya pilihan yang kita hadapi ketika memikirkan apa yang akan dilakukan, sangatlah banyak, tak terlampaui. Selain itu kan juga bisa seperti makan, minum, membereskan kamar, dll. Cukup jelas kan sampai disini maksud dari pilihan setiap detik itu sendiri?


2.  Pilihan Menentukan Segala Hal

Dari pilihan yang sudah kita pilih, akan berlanjut dengan bagaimana masa depan atau hal-hal yang akan terjadi ke depannya yang seringkali kita tidak duga-duga. Pilihan kita akan mempengaruhi segala hal yang akan terjadi ke depannya, terutama dalam konteks pilihan yang memang benar-benar butuh pemikiran dan kepastian dari dalam diri yang kuat. Bila dalam konteks yang harus dilakukan sekarang seperti tadi, mungkin segala hal yang terpengaruhi oleh pilihan kita itu tidak bisa dibayangkan atau tidak berpengaruh besar. Oleh karena itu, kita akan kembali pada konteks IPA dan IPS yang tadi.

Orang yang telah mengambil jurusan IPA itu, akan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam dirinya maupun dalam kehidupan sehari-harinya dia, termasuk mempengaruhi pola hidup yang secara tidak langsung juga turut mempengaruhi karena pilihan kita itu. Maksudnya adalah, orang yang telah mengambil IPA tersebut biasanya akan cenderung lebih sibuk dari mereka yang bukan mengambil IPA. Orang tersebut akan menghadapi berbagai macam persoalan yang benar-benar membutuhkan logika. Karena persoalan tersebut, secara tidak langsung juga membentuk kebiasaan atau kepribadian yang baru yang tidak sengaja terbentuk. Yaitu orang tersebut bisa saja menjadi orang yang introvert, sibuk, dan sebagainya.

Selain dari kebiasaan, juga mempengaruhi masa depan yang akan ia hadapi meskipun kadangkala menyimpang ataupun tidak diduga-duga. Ketika lulus dengan jurusan IPA, ia otomatis cenderung kuliah di fakultas yang menggunakan ilmu yang sudah didapat di SMA. Lalu setelah kuliah di fakultas yang sesuai dengan IPA tersebut, berlanjut ke dalam kehidupan kerja, yang umumnya sesuai dengan pendidikan dan skill yang telah diraih.

Jika contoh di atas sulit dicerna, ada 1 contoh yang sangat sederhana. Menjadi orang yang malas atau rajin, misalnya. Ketika kita memilih menjadi malas, terbentuklah kepribadian kita yang terlalu santai sehingga berbagai peluang untuk berprestasi pun semakin pudar. Sedangkan bagi orang yang rajin muncul kepribadian yang tekun dan tepat waktu sehingga berbagai peluang untuk berprestasi pun semakin besar.

Sudah cukup jelas bukan? Kalau pilihan turut mempengaruhi kehidupan kita?

3.  Sesal atau Syukur

Segala pilihan yang sudah kita putuskan akan mengandung berbagai macam konsekuensi. Ketika kita sudah menentukan sebuah pilihan, kita akan dihadapi dengan berbagai pilihan dan tantangan yang baru. Nah, terkadang ketika sudah dihadapi dengan berbagai pilihan yang lain dan tantangan itu, seringkali membuat kita menjadi drop atau merasa menyesal atas pilihan yang telah kita pilih. Kedua hambatan tersebut membuat kita menjadi bingung dan merasa bahwa salah memilih atau sebagainya. Seperti kasus orang yang memilih jurusan, ketika sudah menjalani setahun dalam jurusan IPA, mulailah timbul penyesalan, harusnya IPS aja, harusnya gini aja, harusnya gitu aja, dan sebagainya.

Begitupula dengan mereka yang IPS, kadang juga timbul hal yang kontradiksi dengan pemikiran dari orang yang memilih jurusan IPA. Malah, orang ini menyesal dan mau masuk IPA, sama persis bukan kasusnya? Ya sama aja kayak orang yang kurus mau gemuk, dan orang yang gemuk mau kurus *tidak bermaksud hehehe*. Kembali lagi deh ke keinginan kita sendiri ujung-ujungnya. Jadi bisa disimpulkan kalo pilihan itu berdasarkan keinginan dan pemikiran kita. Setuju?

TAPI, ADA PUN PILIHAN YANG BISA DIUBAH. Mari kita kembali ke malas atau rajin, Keduanya merupakan pilihan, namun pilihan dalam kasus ini adalah pilihan yang alternatif, alias bisa berubah-ubah. Berbeda dengan pilihan absolut pada IPA atau IPS sebelumnya. Orang bisa mencoba menjadi rajin ketika sebelumnya malas, dan sebaliknya. 

Nah, sekarang setelah mengetahui kasus diatas, mari kita tinjau pilihan yang sudah dijalani itu. Biasanya akan muncul kesan-kesan ketika menjalani sebuah pilihan. Seringkali ketika salah memilih, langsung mengjudge diri sendiri. Sesal pun timbul. Tapi kita harus ingat, kalau pilihan kita juga mempengaruhi masa depan. Kalau contoh kasus di no 2, tampak jelas bukan pilihan masa depan yang akan terjadi? Nah disini gue mau sampaikan, ketika kita sudah memilih pilihan, muncul pilihan lain, dari pilihan lain, muncul lagi puluhan ini itu dsb. Bahkan sampai-sampai tidak bisa terimagine apa pilihan yang ini itu tersebut. Nah, sekarang cobalah kita fokus pikirkan pilihan yang tidak terimagine itu. Pilihan yang tidak terimagine itu berarti pilihan yang tidak kita duga, misalnya saja ketika kuliah elektro, nyatanya ketika dewasa malah menjadi seorang marketing, yang ternyata lebih sukses dari apa yang diharapkan jika bekerja sebagai teknisi elektronika itu. Bila kita mensyukuri apa yang sudah kita pilih, pastilah kalau jalan ke depannya juga akan menjadi lebih baik. Pikiran yang positif dan syukur akan membuka gerbang-gerbang pilihan yang tidak kita duga-duga sebelumnya dan akan menjadi menarik bagi kita. Jadi, sesal atau syukur?

Jadi, intinya itu adalah stay positive. Jangan pernah menyesali pilihan yang sudah kita buat, karena muncul hal-hal yang tidak kita duga dari situ. Syukurilah apa yang sudah dipilih, meskipun salah namun percayalah tetap ada rencana terbaik ke depannya. Pikirkanlah dengan matang setiap pilihan yang kita putuskan. Life is a choice. Hidup adalah sebuah pilihan. Pilihan-pilihan yang kita raih sebetulnya adalah baik bila kita pikirkan dari segi positif, bukannya dari segi buruk yang malah justru membuat rasa penyesalan yang berlarut-larut.

Bersyukurlah atas segala pilihan yang kita buat. Life is a choice. All choices are good if we see from the light side.

Friday, November 4, 2016

Pentingnya Bersosialisasi

Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan kepada kalian semua tentang betapa pentingnya sosialisasi dan komunikasi di dalam kehidupan ini. Pada awalnya, saya hanya berdiskusi dan saling jawab menjawab mengenai sosialisasi ini dengan teman baik saya. Kebetulan nih, teman baik ini memiliki kepribadian yang bisa terbilang mirip dengan saya, yaitu sama-sama introvert. Jadi, seminggu yang lalu ia bertanya dan memulai sebuah topik how to talk to people. Jadi kami berdiskusi, dan diskusi ini bisa terbilang cukup panjang. Dia juga blogger seperti saya. Ia request agar topik ini diposting di blog saya sendiri. Saya pun setuju dengan hal itu, karena saya juga berpikir kalau topik ini bisa disharingkan dengan yang lain, sehubungan saya adalah reborn blogger, jadi ia menyarankan sayalah yang memposting tulisan bertopik ini. Jadi, orang ini pula yang menginspirasi ane buat kembali ngeblogging sebelumnya. Thanks!

Mungkin salah satu dari kalian yang membaca ini berpikir bahwa bersosialisasi itu tidak terlalu penting. Tapi nyatanya, sosialisasi itu adalah kunci dalam menjalani kehidupan ini. Mengapa? Karena seperti kodrat kita yang adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang membutuhkan sesamanya dalam menjalani hidupnya. Tanpa kehadiran orang lain, kita tidak akan bisa menjalani hidup ini. Mungkin iya, beberapa dari kalian juga berpandangan kalau kita bisa menjalani hidup tanpa interaksi dengan orang lain. Namun secara perlahan-lahan pandangan tersebut akan tergeser karena dari waktu ke waktu, akan ada saat dimana kita membutuhkan orang lain di dalam hidup kita.. Oke sudah cukup ceramah tentang ini..

Sebenernya yang mau saya sampaikan disini adalah bersosialisasi in reality.. speaking with the other person. Buat kalian yang sedang membaca ini, kalian pasti memiliki suatu hambatan dalam berinteraksi dengan orang, benar? Ya, kalau nggak ada, buat apa kalian baca ini? *lol* oke, maksudnya ga semuanya.. tapi pasti ada hambatan tersebut.. jujur saja.. saya juga demikian dengan kalian... Sebelumnya saya adalah orang yang sangat pendiam dan lugu. Saya juga memegang teguh tentang pernyataan berikut : "Diam adalah Emas."
Namun, pernyataan tersebut jangan sampai kita gunakan setiap saat, pernyataan tersebut bisa kita lakukan dan manfaatkan pada saat-saat tertentu, seperti menghadapi orang yang keras kepala, bolot, maupun ketika mendengarkan curhatan orang.. apa maksudnya curhatan orang? Curhatan orang kan seharusnya ditanggapi dengan baik? Ohh jangan salah paham dulu.. yang saya maksud disini adalah mendengarkan curhatan orang tersebut dengan seksama tanpa harus berbicara atau mencela semuanya itu.. setelah itu diam dan disitulah orang yang mendengarkan akan berpikir dengan jernih ketika dalam diam... karena terkadang ada pula curhatan orang yang sulit dicerna... atau sebenarnya juga.. orang memiliki tujuan curhat untuk melampiaskan semuanya, sehingga tidak semua curhat harus ditanggepi panjang lebar pula.

Oke, sudah cukup intermezo yang berlebihan.. Jadi sosialisasi itu sebenarnya apa sih? Sosialisasi itu menurut pandangan ane, adalah proses berinteraksi dengan orang lain. Simple sih, cuman sebenarnya ini sangat sulit untuk dilakukan buat kalian yang mungkin sudah kental menjadi seorang yang pendiam dan dingin.. 
Saya pun juga merasakan hal yang demikian.. ketika saya kecil, saya mengisi tahun-tahun dengan kehampaan, wajar dulu saya tidak terlalu mementingkan obrolan atau dialog dan lebih memilih cuek dan menutup diri.. Namun pada akhirnya, ketika masa SMP itu dimulai, saya pun mulai merasa dampaknya yang sangat besar dan mempengaruhi hidup saya.

Masa SMP adalah masa peralihan dari anak-anak menuju remaja, atau di masa inilah kita mengalami pubertas, perubahan dalam mental maupun fisik secara drastis, seperti pola pikir kita akan semakin dewasa di tahap ini. Jadi saat kelas 7 saya lebih sering menjadi orang yang pendiam, cuek, pemalu, dan polos, yaitu sangat mudah terpengaruh dengan orang lain, yaitu teman-teman saat SMP itu. Ane dlu cuek banget sama keadaan sekitar, sampai-sampai orang-orang pada nilai ane orang yang dingin.

Namun di kelas 8, seperti yang saya katakan bahwa saya adalah polos *lol*.. jadi saya pun kebawa arus oleh teman-teman. Yang saya dapat adalah betapa pentingnya persaudaraan dan persahabatan dengan orang lain. Dan kelas 9 adalah puncaknya, karena sosialisasi yang kurang semasa kelas 7 dan 8, saat kelas 9 saya mendapatkan kelas yang bisa terbilang jauh dari prediksi, yaitu menemukan orang-orang atau teman-teman yang baru.. seems weird for me.. I hate this thing.. Jadi ane merasa hampa saat sadar betapa ansosnya ane saat SMP.. Akhirnya kesalahan yang ane lakukan semasa SMP pun bisa terbayar semasa SMA.

Di SMA, saya memulai lembaran baru. Saya bertemu dengan teman-teman SD maupun SMP. Ini bisa dijadikan kesempatan emas buat saya memperbaiki diri. Saya memiliki tekad untuk berubah menjadi orang yang normal *emgnya gw gila*.. maksudnya, menjadi manusia yang seharusnya, serba cukup dalam hal sosialisasi, tidak terlalu dingin ataupun lugu. Awalnya sih, rasa takut yang berlebihan, takut salah, takut itu, tapi akhirnya ane sadar, ane harus berani dalam melawan rasa takut tersebut. 

MANFAAT YANG BISA DIPEROLEH

Berawal dari hanya memulai obrolan pada orang yang baru kenal, itu menjadi sebuah awal yang baik untuk diriku ini. Hingga akhirnya ane pun sangat mengerti kalau sosialisasi itu penting sekali untuk kehidupan, karena tanpa sosialisasi, kita tidak akan mampu untuk menjalani hidup dengan tentram.. Meskipun sosialisasi hanyalah sekedar berbicara, berinteraksi dengan orang lain, namun hasil yang diperoleh jauh lebih besar dari itu. Apa saja manfaatnya?

1.  Membangun relasi yang baik dengan orang lain, karena dasar dari terbangunnya relasi adalah melalui interaksi atau komunikasi.

2.  Ketika sudah terjalin relasi, relasi tersebut akan membantu kalian dalam hal apapun, termasuk dalam pelampiasan sesuatu dalam curahan hati *asek*

3.  Relasi yang kuat menciptakan suatu persaudaraan yang kuat pula, sehingga orang tersebut bisa menjadi bagian dari hidup kalian, maksud saya, mereka akan selalu berusaha untuk selalu ada dalam membantu atau mensupport kalian.

4.  Mengetahui perkembangan dunia saat ini, memperoleh informasi-informasi yang akan memperkaya akan pengetahuan kita, baik dalam hal yang berunsur pelajaran, maupun hal-hal sehari-hari yang secara terselubung menyangkut hal-hal kehidupan juga.

5.  Hidup akan terasa jauh lebih baik ketika kita peduli pada orang lain melalui sosialiasi yang kita lakukan ataupun yang mereka lakukan terhadap kita.

HOW TO TALK TO PEOPLE ?

Begitu besar bukan manfaatnya? Bahkan Pencipta kita sendiri pun menghendaki demikian, untuk saling melengkapi satu sama lain. Baiklah, saat ini saya mau berbagi tentang bagaimana cara bersosialisasi dengan baik dan bagaimana cara memulai sosialisasi tersebut. Saya membaginya menjadi 3 cara yang bisa menjadi good start to do socialization..

1.  Ketika baru bertemu dengan orang asing, sapalah dan berkenalan secara langsung. Simple tapi sulitnya minta ampun, ditambah terkadang cara ini biasanya dirasakan aneh, tapi seiring berjalannya waktu, cara ini akan selalu dilakukan di kehidupan nantinya.

2.  Sama seperti yang pertama, bila langkah pertama sulit dilakukan, anda bisa melompat ke cara ini sebagai bentuk perkenalan yang baik pula.. dan cara ini bukan hanya digunakan pada perkenalan, melainkan untuk kelanjutan relasi yang sudah terbangun itu. Jadi, cobalah untuk menjalani prinsip ini : "Give the attention to the others." Berikan perhatian kepada orang lain.

Others yang dimaksud disini bukan hanya merujuk pada orang yang sudah kita kenal, melainkan kepada mereka yang baru kita temui, misalnya saja, ketika seseorang sedang kesulitan, kita secara spontan langsung membantunya, nah secara otomatis, orang yang kita bantu akan mengucapkan terima kasih, dan disitulah titik paling dominan untuk orang-orang dalam menjalani relasi. Akan terjadi kontak mata dan interaksi yang tidak sengaja, sehingga saat itu bisa menjadi perkenalan yang tak disengaja. Karena pada umumnya, akan terjadi spontanitas dari pihak yang kita temui untuk menjalin relasi dengan kita. Oleh karena itu, perhatian pada orang lain bisa menjadi titik paling rentan untuk terjadinya sosialisasi, sehingga cara ini menurut ane adalah cara yang sangat jitu untuk semuanya itu.

3.  Untuk yang terakhir, bila kita tetap takut untuk melakukan kedua cara tersebut, diperlukan dorongan dan niat serta target yang sangat kuat dan harus dilakukan dengan disiplin penuh. Yaitu apa? Coba kembali ke keyakinan kalian masing-masing.. Semuanya mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain.

Nah, saling menghargai ini lah yang harus menjadi patokan, ketika kita terlalu cuek, berarti kita melanggar disiplin dan pokok ajaran saling menghargai itu. Mengapa saya bilang terlalu cuek? Karena sifat cuek pada manusia akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang, sehingga terkadang kita juga harus bisa memaklumi orang yang lebih ketara cueknya, terimalah dia apa adanya, sehingga itu bisa menjadi bentuk dalam menghargai orang lain. Jadi sebenarnya intinya apa? Ini adalah langkah untuk membangun keberanian dan kekuatan di dalam diri, kita harus tetap teguh dan ingat kalau saling menghargai orang lain itu penting yang umumnya berwujud dalam bentuk sosialisasi yang sederhana.

Jadi, begitulah cara yang bisa saya bagikan kepada kalian para pembaca. Semoga dapat bermanfaat dan membantu kehidupan kalian selanjutnya. Tetap semangat ya guys! Terima kasih telah membaca postingan ini.

Thursday, November 3, 2016

The Real Meaning of Life

Down Down Up Down Up Up.. barangkali kita pernah dengar kata-kata seperti ini? Ya.. ini adalah ritme yang digunakan untuk menunjukkan pola irama pada pengiringan sebuah lagu dengan memainkan chord pada gitar.. Turun turun naik turun naik naik dan siklus pun berulang.. Jadi apa yang mau gw sampaikan disini? Apakah ada lagi imajinasi yang terbentuk ketika membaca kata-kata tersebut? Ya, kalau anda cerdas *sok bgt*, pasti anda akan menemukan kesamaan-kesamaan menarik antara kata-kata tersebut dengan sesuatu yang gue anggep sangatlah berharga.. yaitu.. LIFE...HIDUP..

Hidup itu apa sih sebenarnya? Banyak orang mengatakan kalau hidup itu selalu penuh kebahagiaan.. full of joy.. full of happiness.. full of ecstasy.. But yes.. I thought like that too.. Hidup itu harus bahagia, belom hidup kalau tidak bahagia... Bahagia yang dimaksud pun bahagia apa? Umumnya ya, bahagia itu ketika jadian sama doi *oops*, mendapatkan sahabat-sahabat pengertian, semua keinginan terpenuhi, memiliki kelebihan yang sangat banyak, dan juga memiliki harta yang amat kaya, sehingga bisa hidup berfoya-foya.. muncullah rasa puas yang tak tergambarkan.. Namun apakah ketika puas itulah yang kita sebut bahagia? Absolutely not...

Bahagia itu diraih bukan ketika kita memperoleh apa yang kita inginkan, bersenang-senang menikmati hidup ini, berfoya-foya, dan sebagainya itu... Namun bahagia yang sebenarnya adalah ketika kita melewati masa down down up down up up tersebut.. gw sebenernya ngomong apa sih? Okee okee biar gw jelasin disini..

Down down up down up up bila diterjemahkan berarti turun,turun, naik, turun, naik, naik... Jadi sebenarnya bila dikaitkan dengan fase dalam kehidupan, ini berarti siklus yang berulang-ulang yang seringkali terjadi di dalam hidup kita sebenarnya... Yaituu.. Kita jatuh,jatuh, lalu bangkit lagi, namun jatuh, dan akhirnya naik dan naikk lagi... Ntahlah mungkin ini belum menjelaskan semuanya.. Tapi bersabarlah ya guys hehehe... Inti dari semua ini apa maksudnya? Apa hubungan ini dengan hidup sebenarnya?

Nah, hidup ini sebenarnya adalah pemberian Tuhan, hidup yang sebenarnya bukanlah kita yang mengatur secara otoritas, melainkan Dia-lah yang mengatur segala nya itu... Di benak kita, kita hanya tau kalau hidup itu harus bahagia, belum hidup kalau belum bahagia.. betul? Ya.. Jadi kita seringkali beranggapan kalau hidup itu akan selalu berjalan mulus tanpa adanya hambatan sesuatu apapun.. tanpa adanya rintangan-rintangan yang tak terelakan di dalam hidup ini..Tapi nyatanya? Tidak ada orang yang memiliki jalan hidup yang cenderung mulus, stabil, kyk garis datar pada sebuah pengukur detak jantung.. Bukan seperti musik yang hanya dimainkan dengan satu nada saja.. Dan tentunya... Bukan seperti bermain gitar dengan ritme yang up up up up saja maupun down down down down saja..

Actually, seharusnya kita saat ini bisa berbahagia.. saat anda membaca ini, seharusnya anda bisa berbahagia.. karena saat anda membaca  ini.. anda telah meluangkan waktu anda untuk hal yang menurut ane bisa membantu hidup kalian..*aminn..* anda msh diberikan waktu dalam menjalani hidup ini.. Di dalam hidup tak ada yang berjalan mulus..

Hidup itu seperti musik, yang memiliki nada rendah dan nada tinggi.. Seperti ritme gitar dengan ritme beraneka macam.. yang ketika dimainkan itu akan menjadi alunan melodi yang sangat menggetarkan hati dan membuat orang-orang yang mendengarkannya merasa terpukau.. *lebay*... Oke biar gw lanjut.. sebenarnya anda harus berbahagia ketika anda mengalami berbagai macam pertikaian, konflik, maupun keterpurukan akibat suatu masalah.. Meskipun kadangkala rasa bahagia itu sulit ditemukan, namun setidaknya janganlah kita hanya mengharapkan hal-hal yang membawa kebahagiaan ketika suatu keinginan sudah tercapai dengan mutlak melalui usaha kita ini... Anda pun harus berani menghadapi keterpurukan yang anda alami.. Jangan meratapi semuanya tersebut seolah-olah hidup anda sudah dibatas mentok dan nothing can I do..

Tentu, ini adalah pandangan yang salah.. Misalnya saja ane mengambil saat "DOWN" tersebut ketika terjadi penolakan, pertikaian, membuat kesalahan, menyesal akan sesuatu, dan difitnah maupun dikecewakan oleh seseorang.. *contohnya ga kurang banyak*... Jadi sbenernya kita patut berbahagia, karena semua itu adalah warna dari hidup kalian yang sesungguhnya... Bagaikan pelangi yang memiliki berbagai macam warna.. sama halnya dengan hidup ini.. jika hidup ini hanyalah naik naik dan naik alias senang, senang, dan senang.. apakah hidup tersebut bisa disebut hidup bahagia yang sesungguhnya.. Ya sih.. bahagia juga.. cmn jika anda mencoba menyelaminya kembali, anda akan tahu kalau itu hanyalah default yang terprogram pada otak kita dan itu membuat orang-orang bisa saja akan mengalami kejenuhan dalam hidup dan ujung-ujungnya menyesal lalu muncullah perasaan down juga bukan? Mungkin ada yang setuju ada pula yang tidak setuju...

Jujur saja, ane sendiri jg sbenernya masih dalam progress untuk memperoleh kesempurnaan dalam menekadkan pandangan tersebut.. Namun ane ingin berbagi dengan kalian.. Bahwa hidup itu bisa bahagia tanpa harus mengikuti berbagai keinginan dan hasrat yang kalian miliki pada biasanya.. Ane juga sudah merasakan betapa hebatnya pendangan tersebut ketika diterapkan di dalam kehidupan ini..

Dalam arti lain, hidup yang bahagia yang dimaksud adalah :

"Mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki dan kita peroleh, sebab semuanya akan indah pada waktunya."
Segala sesuatu yang kita miliki dan kita peroleh itu adalah semua kejadian yang bisa membuat kita kecewa maupun semua kejadian saat kita berbahagia juga.. ketika semuanya menjadi satu dan kita syukuri selalu, alhasil akan terjadi ungkapan yang melebihi dari bahagia itu, karena melalui semua kejadian yang membawa keterpurukan, kita akan belajar banyak hal yang bisa membuat kita semakin maju dan maju, berkembang dan berkembang, hingga akhirnya mencapai tahap kesempurnaan.. Ane tau kalau pandangan dan mindset ini sangat sulit dilakukan.. Tapi percayalah,.. mindset ini menjadi obat dari segala obat yang manjur membuat hidup seseorang berubah 180 derajat dari hidup sebelumnya...

Semua akan indah pada waktunya, segala sesuatu yang telah kita lewati itu semuanya mengandung makna yang sewaktu-waktu membuat kita teringat akan kejadian-kejadian tersebut yang membuat kita merasa bernostalgia... dan semua yang kita lewati itu ternyata membawakan hasil yang memukau dan di luar dugaan... sepertinya seringkali sulit diterima melalui akal kita sendiri.. Itulah hidup yang dirancangkan oleh Tuhan.. Hidup yang sangat baik dan penuh sukacita...

Hidup kita ini seolah-olah sudah menjadi rancangan dasar dari Tuhan sejak awal kita lahir.. sudah sepatutnya kita selalu mensyukuri hidup yang kita miliki dan berpikir bahwa hidup dalam bercukupan saja sebetulnya membuat kita bahagia, karena akan timbul rasa penuh syukur atas apa yang kita miliki...

So.. That's it.. The conclusion is.. You guys.. and I.. should keep this mindset deeply in our mind.. Because I believe... This mindset can change our life brilliantly... If we're going down, we can going up again.. and then share our story to the others.. This would help all people in this world to have a brilliant mindset about this life...

So.. That's life.. Thank you for reading this exposition.. I hope you guys can forgive me whether there are some words that maybe wrong.. Because I'm a human too like you all guys..

Back From The Death!

Hallo semuanya.. ane kembali lagi akhirnya dari kekelaman berbulan-bulan nih hahaha.. Setelah sekian lama akhirnya gue bisa kembali ngeblog disini.. (lol knp pake gue skrg)... Hahaha iya juga.. sekarang gue bakal gunakan bahasa gue ya.. *ngomong ape gue lol*... jadi.. berhubungan gw udh jarang ngeblog sama mantengin artikel-artikel.. jadinya sekarang lebih terbiasa menggunakan kata gue lo dsb.. gapapa lah yaa hehehe...

Kenapa gw bisa menghilang dari kehidupan blog lagi? Ya mungkin karena gw terlalu sibuk akan kehidupan yang gw jalanin saat ini.. selama berbulan-bulan itu gw hanya menghabiskan waktu dengan bermain handphone, streaming film, dsb.. udh ga kepikiran mau ngeblog dan membuat tulisan-tulisan lagi.. sampai akhirnya gw kangen ngeblog setelah liat blogger lain yang memanfaatkan blog sebagai curahan hati *bkn curhat jg sih, hanya tulisan* yaa pokoknya gw rasa kyknya gw bisa menirunya dan mencoba mengeblog kembali..

Ohiya.. kenapa tiba-tiba mau ngeblog lagi? Mungkin sekarang gue jdi lebih sering gabut lah ya.. jadinya gue gini deh.. nyari inspirasi.. ditambah juga ya.. sekarang gw butuh pelampiasan buat segala sesuatu yang terjadi di diri gw.. sbnernya gara-gara terinspirasi dari blogger lain jg sih.. kyknya seru gtu bisa jadi pelampiasan buat berbagai macam hal yang dituangkan dalam sebuah tulisan..

Ga kerasa sih.. blog ini umurnya udh genap 4 tahun lebih.. dari dlu gw yg sukanya ngegame, hingga akhirnya tidak suka apa" XD loll ga gini jg sih.. Seiring berjalannya waktu, gw makin lama makin jenuh dalam game... ditambah fasilitas yang kurang mendukung.. *gamer pasti tau*..  Selama ini gw cuma pikir klo blog itu bisa buat sharing hal-hal menarik, terutama berbagi sebuah permainan.. sampai akhirnya gw jg sadar klo blog jg bisa dijadikan pelampiasan.. Pelampiasan berbagai hal pokoknya...

Mungkin dari titik ini, semoga gw bisa aktif ngeblog kembali.. terjauh dari berbagai hambatan.. sewaktu-waktu akan gw sempatkan buat ngeblog disini... Hehehehe... peace guys... Oke deh.. Selamat membaca blog ini lagi.. :')

Sunday, June 14, 2015

The Sims 4 Full Version

The Sims 4 adalah game simulasi kehidupan yang dikembangkan oleh Maxis dan The Sims Studio dan dipublikasikan oleh Electronic Arts. Game ini dirilis pada 2 September 2014. Game ini adalah simulasi aktivitas sehari-hari dalam kehidupan. Game ini cocok untuk kalian yang menyukai game tentang kehidupan sehari-hari seperti makan, tidur, olahraga, dan lain-lain. Oke langsung aja cekidot :

PC RECOMMENDED SPECS:


  • OS: 64 Bit Windows 7,8, or 8.1
  • PROCESSOR: Intel core i5 or faster, AMD Athlon X4
  • MEMORY: 4GB RAM
  • HARD DRIVE: At least 9 GB of free space with at least 1 GB additional space for custom content and saved games
  • DVD-ROM: DVD ROM drive required for installation only
  • VIDEO CARD: NVIDIA GTX 650 or better
  • SOUND CARD: DirectX 9.0c Compatible
  • DIRECTX: DirectX 9.0c compatible
  • INPUT: Keyboard and Mouse
MAC MINIMUM REQUIREMENTS:


  • OS: Mac OS® X 10.7.5 (Lion)
  • PROCESSOR: Intel Core 2 Duo 2.4Ghz Processor or better
  • VIDEO CARD: NVIDIA GeForce 320M, 9600M, 9400M,ATI Radeon HD 2600 Pro or better.  Video RAM of 256MB or better.
  • MEMORY: 4GB RAM
  • HARD DRIVE: 10 GB of Hard Drive space
  • INPUT: Keyboard and Mouse

How To Install :
1.  Download file .torrent dari link di atas
2.  Buka file .torrent lalu download game melalui torrent tersebut
3.  Mount file .iso nya lalu install gamenya
4.  Copy cracknya ke tempat dimana agan install
5.  Play and enjoy !

Demikian postingan tentang game The Sims 4. Jangan lupa commentnya. Thx ^_^